Resensi buku : The kite runner – Khalid Hosseini

kite runner 1 191x300 » Resensi buku : The kite runner - Khalid HosseiniMembaca The kite runner, mau tak mau kita diajak mengembara dalam alam kota kabul yang penuh ketidakpastian akibat konflik perang bersaudara. Berlatar belakang hubungan batin antar dua anak kecil, mereka mendapati bahwa hubungan keduanya bukanlah hubungan pertemanan biasa, dan juga bukan sekedar hubungan antara tuan dan pelayan. Namun lebih dari itu, ternyata mereka berdua memiliki hubungan darah yang sangat kuat.

Amir jan dan Hassan adalah dua anak kecil yang tidak tahu bahwa mereka ditakdirkan untuk selalu bersama.

Amir penganut Islam Sunni, berdarah Pashtun, kelompok paling dominan di Afganistan. Ia membaca apa saja: dari Rumi, Hafiz, Saadi, Victor Hugo, Mark Twain, sampai Ian Fleming. Ayahnya adalah seorang pengusaha berpengaruh dan pemilik Mustang hitam yang dipakai aktor Steve McQueen dalam film Bullit. Selain membaca, ia sangat suka menonton film. Ia bisa menikmati The Magnificent Seven hingga 13 kali banyaknya. Belum lagi Rio Bravo yang dibintangi John Wayne.

Hassan berdarah Hazara, penganut Islam Syiah, menjadi bagian masyarakat minoritas dalam strata sosial masyarakat Afgan. Hassan ringkih, buta huruf, sumbing, dan hanya tahu kisah epik abad ke-10 tentang pahlawan-pahlawan Persia Kuno, Shahnamah. Puncak dari semua kontradiksi itu adalah fakta bahwa Hassan adalah budak Amir, meski sebagai kanak-kanak mereka dengan suka cita menoreh batang-batang pohon di ibu kota dengan tulisan yang fenomenal: AMIR DAN HASAN, SULTAN-SULTAN KABUL. Satu-satunya persamaan: keduanya tak pernah mengalami sentuhan kasih ibu kandung sejak pertama melihat dunia.

Keduanya “mati” secara bersamaan, pada hari dimana mereka memenangi festival layang-layang di kota itu. Amir roboh secara psikologis setelah menyadari dirinya tak lebih dari seorang pengecut yang menjijikkan. Hassan hancur secara eksistensial, tatkala ia rela membiarkan dirinya bak potongan karpet diinjak-injak oleh orang lain. Semua itu terjadi disaat umur mereka belum genap 13 tahun. Amir telah mengkhianati Hassan, satu-satunya sahabatnya, saudaranya. Rasa bersalah kini menghantuinya. Menyingkirkan Hassan dari kehidupannya adalah pilihan tersulit yang harus diambilnya.

Tapi inilah The Kite Runner yang banyak dipuji itu. Dan Hosseini tak sedang berkisah tentang persahabatan remaja yang retak menjelang akhil baliq. Ia merekonstruksi sebuah bangsa yang redup karena pertikaian tak kunjung henti di dalam tubuhnya sendiri. Rekonstruksi yang berawal dari perbedaan keduanya.

The Kite Runner bergerak cepat. Membawa pembaca menelusuri eksotisme Afghanistan, juga derita yang nyaris abadi di tanah itu. Dari konflik horizontal antar suku dan sekte, hingga invasi Uni Soviet dan penguasaan Taliban yang melakukan hukuman mati di tengah jeda pertandingan sepak bola. Hosseini seperti ingin menjerit, Pashtun ataupun Hazara, mereka anak-anak piatu akibat tiadanya belaian sayang ibu pertiwi.

The Kite Runner menjadi best seller tak semata-mata karena inilah novel Afganistan pertama yang ditulis dalam bahasa Inggris. Hosseini dengan teliti menyuguhkan elemen-elemen drama kemanusiaan, penebusan dosa, dan pencarian martabat dalam sebuah panggung sosial politik yang terus berubah cepat. Ia tak berpretensi menjadikan sang tokoh sebagai protagonis murni yang berani menghadapi segala tantangan. Hosseini dengan sadar mengungkapkan sisi gelap manusia: pada saat-saat tertentu menjadi pengecut, atau menghindari tanggung jawab. Persoalannya, manusiawi jugakah jika sikap itu terus dirawat hingga ke liang lahat? Lewat The Kite Runner, Hosseini jelas berkata “Tidak!”

* Diambil dari berbagai sumber *